Langsung ke konten utama

Sejarah Masuknya Islam di Ds. “PAGERHARJO”


Desa pagerharjo termasuk desa yang sebagian besar masyarakatnya adalah masyarakat abangan atau golongan penduduk jawa muslim yang mempraktikkan islam dalam versi yang lebih sinkretis dimana masih kental dengan tradisi dan adat. 

Kemudian munculah niat dari salah seorang sesepuh desa yaitu pak haji mansyur, yang merupakan tokoh desa yang berkeinginan untuk supaya ada salah satu kyai yang dapat menjadi pengarah sekaligus penegak ajaran islam yang lebih kuat. Sampai akhirnya beliau menemukan orang tersebut. 

Lalu beliau bertemulah dengan kiai Nasrun yang berasal dari Kalimantan, dimana dirinya merupakan kyai muda yang menikah dengan bu Asiah yang merupakan  warga asli desa Pagerharjo. Saat kyai Nasrun menyiarkan agama islam di PAGERHARJO Metode pembelajaran yang digunakan untuk menyebarkan agama islam saat itu terbina dengan melalui sural atau bisa dibilang pesantren dan diberi nama Nadothul abidin. Dari situ lahirlah beberapa santri yang menjadi penggerak islam setelah kyai nasron wafat. Disamping itu juga dibuat lembaga pendidikan islam madarasah diniyah bustanul ulum (madrrasah yang mengajarkan tentang keagamaan) yang berdiri sekitar tahun 1960an, yang pada mulanya madrasah ini hanya sebagai tempat ngaji biasa dikarenakan masuknya waktu itu adalah pada sore hari dan malamnya dilanjutkan pembelajaran di surau/pondok pesantren.

Salah satu daya tarik para santri sangat senang dalam menimba ilmu dengan kyai nasrun karena memang beliau itu orangnya sangat alim dan di bidang ilmu agama telebih karomahnya yang sudah tersiar dimana - mana, salah satunya ketika beliau diundang mengajar pengajian / memenuhi hajat seseorang, dan beliau itu menurut sejarah yang beredar beliau memiliki ilmu “atas angin” , karena beliau selalu datang terlebih dahulu saat ada yang memanggilnya untuk memimpin hajatan, Rata - rata para santri tidak hanya berdomisli/yang bertempat tinggal di pagerharjo saja, tetapi juga wilayah wedarijaksa, trangkil, juwana juga datang untuk mengaji dengan beliau, akan tetapi karena pada saat itu kehidupan masih sangat tradisional sehingga metode pelajarannya itu lebih klasik / kedekatan pribadi, menurut pengamatan kami, metode ini hanya memberi pembelajaran yang sedikit tetapi sangat mengena untuk para santri, sehingga kemampuan santri secara umum masih sebatas pelaksanaan sariat islam, tentang sholat, puasa, zakat, & sebagainya.

Perkembangan islam selanjutnya dilanjutkan oleh putranya yaitu kyai Ubaidah Nasrun, selain beliau berguru pada ayahnya beliau juga ikut nyantri di madrasah radutluh ulum ngguyangan trangkil, setelah beliau lulus dari madrasah radutluh ulum kyai ubaidah muda juga ikut mengajar di madrasah ihyaul ulum wedarijaksa. Karena pengalaman itulah akhirnya dia bersama teman - teman mudanya di pagerharjo bertakad untuk mendirikan madrasah ibtidak iyah, madrasah tsanawiyah dan aliyah sebagai kelanjutan madrasah sebelumnya. Kyai Ubaidah merupakan orang yang biasa tetapi karena kerendahan hatinya pada semua orang beliau menjadi mampu untuk merangkul semua bentuk masyarakat mulai dari yang agamis, nasionalis,budayawan, kaya sampai yang miskin. Sehingga dengan cepat beliau mampu mewujudkan semua harapan dan cita - citanya yang tidak lepas dari dukungan masyarakat pegerharjo. Dengan adanya madrasah ini, setiap tahun mampu memunculkan santri - santri muda yang juga berpartisipasi mengembangkan keagamaan di desa pagerharjo dan sekitarnya sehingga tidak heran kalau pagerharjo menjadi salah satu desa yang agamais.

Tetapi allah berkehendak lain karena kyai ubaidah nasroni telah berpulang ke rahmatullah di usianya yang masih muda, sehingga dilanjutkan oleh sang adik yaitu kyai sulaiman nasroni, berbeda dengan sang kakak, kyai nasron berwatak tegas dan disegani seluruh masyarakat. Selain berjuang di madrasah beliau juga pernah menjadi salah satu kepala desa yang salah satu program diantaranya adalah mengislamkan beberapa kegiatan di desa mulai dari kegiatan sedekah bumi yang lebih diarahkan pada majelis ilmu dan pengajian, 4dan penghidupan suaru - surau / mushola disetiap RT untuk menunjang fasilitas masyarakat dalam melaksanakan ibadah islam. Dan beliaupun terjun langsung untuk menjadi khotib dan pembicara di seluruh masjid di desa pagerharjo.

Sehingga beliau bertiga sampai saat ini dianggap sebagai tokoh yang berpengaruh dalam pengembangan islam di desa pagerharjo, hal ini bisa dibuktikan dengan adanya kegiatan khol yang telah disepakati oleh warga desa yang dilaksanakan setiap tahun pada bulan apit (penanggalan jawa) dan setiap jumat legi siswa - siswa madrasah ziarah dimakam, kalau masyarakat umum biasanya pada kamis sore dan sekalian mengunjungi keluarga yang telah meninggal.


terimakasih sudah membaca semoga bermanfaat.

Komentar